Kegagalan dari apa yang kita harapkan, keduanya ini saling berhubungan layaknya dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Tidak beda jauh dengan perjalanan penulis menuju Perguruan Tinggi (PT) yang kini menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengambil Ilmu Perpustakaan. Awal kisah mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di salah satu PT ternama wilayah Jateng mengambil Teknik Informatika, rasa kecewa mulai menyelimuti pasca pengumuman nama saya tidak ada pada daftar penerimaan mahasiswa prodi tersebut. Kemudian mengikuti SPMB PTAIN menjadi langkah selanjutnya, masih sama dengan harapan pertama ingin mengambil TI, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bagi saya adalah pilihan yang tepat. Pilihan pertama adalah TI yang kedua Ilmu Perpustakaan. Tak disangka ternyata hasilnya masih seperti ikut jalur SNMPTN, harus lapang dada dan menerima bahwa nama saya tercantum di Ilmu Perpustakaan yang pada saat itu berkapasitas 10 orang.
Saya menganggap ini adalah kecelakaan, mungkin kisah ini masih ada yang lebih parah lagi, karena ini memang bukan kemauan saya (saran dari teman), penderitaan belum cukup sampai di sini saja. Banyak orang yang beranggapan “kuliah ambil Ilmu Perpustakaan buat apa mas? Lha wong tetangga saya lulus SMA bisa jaga Perpustakaa kog”. Seperti itulah kata tetangga saya yang kental dengan logat Jawanya. Rasa kesal terus menghantui waktu itu.
Kita sebagai manusia biasa, banyak kekurangn, kelemahan, keterbatasan, serta kegagalan. Akan tetapi di balik itu semua banyak yang dapat digali dari diri seorang manusia, manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna dari yang lainnya. Dengan akal mereka bisa menciptakan hal-hal yang spektakuler.
Banyak orang hebat di tengah keterbatasan. Apapun keterbatasan itu tidak mempengaruhi mereka mencapai puncak kesuksesan. Mereka tergugah untuk tampil sebagai pribadi yang baik, mereka orang-orang biasa dan bisa melakukan hal yang luar biasa. Mengapa kita tidak bisa ? pasti bisa, kita dilahirkan di dunia sama seperti yang lain. Allah memberikan kemampuan pada manusia tidak dibeda-bedakan.
Hati saya tergugah setelah membaca buku “Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi” yang ditulis oleh Abdul Wahid. Menjelaskan bahwa Kaum Yahudi di muka bumi ini jumlahnya adalah sebagian kecil dari beberapa kelompok yang lain. Mereka dalam jumlah yang sangat sedikit namun bisa mengguncang dunia dengan segala pemikirannya. Seperti contoh adalah Albert Einstein. Orang Yahudi yang dikenal dunia sebagai tokoh pertama fisika di dunia. Dia juga menjadi professor bidang Teknik Hidrolika (Teknik Sipil) di Universitas California. Berkat prestasinya menjulang tinggi Albert Einstein dikenang masyarakat luas sebagai seorang Ilmuwan sepanjang masa.
Sekarang saya sadar betul bahwa segala latar belakang jika tidak ada usaha serius dari diri seseorang tidak akan mengubah keadaan. Banyak manfaat yang kini saya rasakan, kerapkali teman browsing yang tak menemukan apa yang dikehendaki, ini disebabkan mereka tidak mengetahui bagaimna cara yang benar nmenelusuri informasi di dunia maya. Saya sangat bersyukur sekali belajar Ilmu Perpustakaan yang mengajarkan tentang akses di media serba ada ini (internet) yang diajarkan pada mata kuliah Temu Kembali Informasi. Itu hanya bagian contoh kecil dari banyak manfaat yang saya dapatkan, mungkin jika ditulis dalam blog ini tidak cukup untuk dimuat. Meminjam pepatah jawa "Witing tresna jalaran saka kulaina" yang artinya cinta karena terbiasa. Demikian pula terbiasanya saya dengan dunia perpustakaan.
Selain Albert adalah jejaring sosial yang selama ini kita nikmati yakni facebook juga ciptaan dari kaum Yahudi pula. Penulis mengadopsi contoh orang Yahudi tidak ada unsur misi keagamaan. Melainkan karena tingkat kecerdasan kaum yahudi benar-benar mempengaruhi kehidupan di muka bumi ini. Mereka dibelahan dunia sebagai kaum minoritas mampu bangkit menciptakan prestasi gemilang. Seolah kaum Yahudi menjadi kiblat para Ilmuwan dunia. Mengapa kita tidak bisa ?





0 komentar:
Posting Komentar