Senin, 18 Maret 2013

Kuliah Umum & Bedah Buku (Perpustakaan Utk Rakyat)

Suasana kuliah tampak berbeda dari biasanya. Senin (11/03) pukul 09.00 diadakan kuliah umum serta bedah buku “ Perpustakaan Untuk Rakyat” di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Buku tersebut adalah hasil karya Pak Blasius Sudarsono dan mbak Ratih Rahmawati, dengan bahasa yang santai seolah dialog antara bapak dan anak. Pak Blasius adalah seorang pustakawan utama di LIPI, sedangkan Mbak Ratih adalah mahasiswi di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Perpustakaan, yang kini berjalan semester empat. Acara ini mendapat tanggapan baik dari mahasiswa, dibuktikan dengan antusiasnya mereka memenuhi ruangan saat itu.

Membaca telah diperintahkan oleh Allah sejak dulu untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan  seseorang. "Perpustakaan berperan sangat penting dalam penyediaan dan pengolahan bahan pustaka agar dapat di temu kembali oleh pemustaka. Tetapi perlu diketahui bahwa membaca tidak harus dalam bentuk cetak seperti buku saja. Oleh karena itu di sinilah peran pustakawan dalam menyediakan berbagai bentuk informasi baik tercetak maupun non cetak sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu, pustakawan harus mempunyai soft skill yang unggul". ujar dekan Fak. Adab Dr. Hj. Siti Maryam M.Ag.

Kemudian masuk pada acara inti acara, pemateri di awali oleh Afia Rosdiana M.Pd. Menurutnya buku tersebut dapat menjadi buku acuan yang enak dibaca karena dikemas seperti novel, dapat menginspirasi para pustakawan dan mampu menimbulkan jiwa atau ruh pustakawan karena pustakawan tidak hanya dipandang sebagaimana yang tertera dalam SK Menpan saja yaitu tenaga ahli, tenaga teknis dalam pengolahan bahan pustaka saja. Diharapkan dengan hadirnya buku tersebut dapat meningkatkan kemampuan pustakawan.
Beliau juga memperjelas mengenai apa itu Taman Baca Masyarakat (TBM) dan Perpustakaan masyarakat. Kedua istilah tersebut intinya sama, hanya saja kebijakan dan pendampingan yang dilakukan oleh instansi yang berbeda. Tahun 2009, seolah-olah orang yang ada di perpustakaan tidak boleh menyebut dengan TBM , tapi harus menyebutnya dengan perpustakaan masyarakat, pasalnya TBM miliknya Depdiknas bagian Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI). Sedangkan Perpustakaan Masyarakat di bawah naungan pemerintah daerah dengan anggaran APBD yang kemudian dibina oleh Badan Pemerintah dan Arsip Daerah (BPAD) bagaimanapun juga keduanya memiliki maksud yang sama, yaitu mengembangkan literasi dan minat baca masyarkat.

Pemateri selanjutnya, mbak Ratih tidak bicara banyak hal mengenai buku “Perpustakaan Untuk Rakyat”. Mba Ratih hanya menanggapi kritik Ibu Afi terhadap tulisannya mengenai perpustakaan yang ada di Jogja dan Sleman hanya urusan kebijakan. Selebihnya Mbak Ratih menantang para peserta untuk aktif pada sesi tanya jawab nanti, karena disitulah mbak Ratih akan bercerita banyak.

Pada kesempatan yang sama hadir pula sang penulis buku “ Perpustakaan Untuk Rakyat” Pak Blasius, menyebutkan bahwa Kepustakawanan merupakan suatu pelayanan dan dilakukan secara professional. Pustakawan profesional adalah  pustakawan yang mempunyai latar belakang perpustakaan pustakawan, tidak hanya berpendidikan tapi mempunyai jiwa dan raga pustakawan.
Memang sangat susah mengubah paradigma mengenai pustakawan saat ini yang hanya dikenal sebagai penjaga buku, oleh karena itu untuk ke depannya kita sebagai calon pustakwan harus bisa  mengubah paradigma tersebut. “Pustakawan itu jarang menulis, karena menulis itu tidak mudah  menulis membutuhkan pemahaman, dan refleksi yang mendalam, dan tuntutan jiwa. Oleh karena itu diharapkan pustakawan mampu melahirkan seorang pustakawan muda yang baru yang mampu lebih baik”, kata Beliau saat memberikan materi.
Kepustakawanan mempunyai 4 pilar, yaitu:
  1. Pustakawan harus jadi panggilan hidup kita, bukan pandangan hidup,
  2. Pustakawan harus menjadi semangat hidup kita sebagai pustakawan,
  3. Pustakawan harus menjadi karya pelayanan,
  4. Harus dilaksanakan dengan professional.
Kepustakawanan lebih dekat dengan kemampuan, memahami yang mau dari pada yang mampu. Ada lima sila kemampuan pustakawan yaitu :
  1. Pustakwaan harus diajak mampu berfikir kritis, baik dalam pengembangan informasi, pengembangan teknologi dan kritis terhadap masyarakat pengguna. 
  2. Membaca, membaca sangat penting bagi pustakawan untuk mengetahui informasi-informasi, untuk menambah pengetahuan. Membaca dalam hal ini diartikan membaca dunia. Jadi seorang pustakawan tidak hanya mengetahui tentang pengetahuan lokal saja, tetapi mengetahui perkembangan dunia.
  3. Menulis, menulis adalah berbagi mengenai ide, gagasaan atau pemikiran sehingga dengan tulisan tersebut pengetahuan dan kreatifitas seseorang dapat ditularkan kepada masyarakat lain.
  4. Kemampuan entrepreneur untuk dihargai. Perpustakaan adalah akumulasi dari recorder culture atau knowledge (pengembangan kebudayaan). 
  5. Etika. Pustakwan yang baik seharusnya memiliki etika yang baik pula, baik dalam berkomunikasi maupun dalam melayani user. Perlu juga pustakawan diajarkan tentang etika.

1 komentar: